SAMARINDA – Anggota DPRD Kalimantan Timur dari Partai Gerindra, Andi Muhammad Afif Rayhan Harun, mendesak Gubernur Kalimantan Timur untuk segera menarik ucapannya yang dinilai tidak pantas karena menyeret nama Presiden RI, Prabowo Subianto, serta adiknya, Hasyim Djojohadikusumo.
Afif menilai pernyataan tersebut bermasalah secara logika dan etika publik. Ia bahkan menyebutnya sebagai bentuk kekeliruan serius.
“Enggak etis dong. Itu distorsi logika dan penyesatan etika publik, dan enggak pantas serta sangat fatal konsekuensinya,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa perbandingan yang disampaikan gubernur tidak tepat karena Hasyim tidak memiliki posisi dalam pemerintahan.
“Pak Hasyim tidak masuk dalam struktur pemerintahan dan tidak digaji oleh negara. Jadi jelas berbeda, tidak apple to apple,” katanya.
Lebih lanjut, Afif mengingatkan bahwa hubungan keluarga tidak boleh dijadikan dasar dalam pemberian jabatan publik karena berpotensi menimbulkan konflik kepentingan.
“Hubungan keluarga Presiden tidak boleh menjadi dasar pemberian jabatan publik di daerah,” tegasnya.
Sebagai kader Gerindra, Afif mengaku tersinggung dan menilai pernyataan tersebut sudah melewati batas.
“Saya sebagai kader Gerindra dan anggota DPRD Kaltim menyatakan bahwa keterangan gubernur itu merupakan penghinaan dan tindakan yang sangat melampaui batas,” ucapnya.
Ia pun secara tegas meminta gubernur segera mencabut pernyataan tersebut dan menyampaikan permintaan maaf terbuka.
“Saya mendesak gubernur untuk mencabut pernyataannya dalam waktu sesingkat-singkatnya dan meminta maaf secara terbuka kepada Presiden Prabowo Subianto dan Bapak Hasyim Djojohadikusumo,” katanya.
Menurut Afif, kesalahan dalam pernyataan itu sudah tampak sejak awal.
“Enggak perlu didengar sampai akhir, menyamakan posisi itu saja sudah salah,” pungkasnya. (*)