
Jajaran Polresta Samarinda berhasil membongkar tabir gelap kasus pembunuhan berencana yang menggemparkan warga Sempaja Utara. Dua pria paruh baya, J (52) dan R (56), ditetapkan sebagai tersangka atas tewasnya korban berinisial S (35) setelah melalui proses penyelidikan intensif yang mengungkap skenario keji sejak awal tahun 2026.
SAMARINDA, KALTIMTARANOW – Penegakan hukum di wilayah hukum Kota Samarinda kembali menunjukkan taringnya dalam mengungkap tindak kriminalitas berat yang menjadi perhatian publik. Pada hari Minggu, 22 Maret 2026, Aula Rupatama Polresta Samarinda menjadi saksi bisu pemaparan kasus pembunuhan berencana yang melibatkan perencanaan sangat matang. Kapolresta Samarinda, Kombes Pol Hendri Umar, secara langsung memimpin jalannya konferensi pers untuk memberikan transparansi informasi kepada masyarakat terkait peristiwa tragis yang menimpa korban berinisial S (35) di kawasan Sempaja Utara.
Dalam keterangannya, Kombes Pol Hendri Umar menegaskan bahwa pengungkapan ini merupakan hasil kerja keras dan sinergi antara jajaran Satreskrim Polresta Samarinda dengan Polsek terkait. Kecepatan aparat dalam merespons laporan serta ketelitian dalam mengolah tempat kejadian perkara (TKP) menjadi kunci utama tertangkapnya dua tersangka utama, yakni J (52) dan R (56). Keduanya kini harus menghadapi konsekuensi hukum atas tindakan mereka yang telah disusun secara sistematis.
Fakta mengejutkan terungkap dalam proses pemeriksaan, di mana diketahui bahwa aksi pembunuhan ini bukanlah tindakan spontanitas.
“Sejak Januari 2026, kedua pelaku telah merencanakan aksi ini dengan sangat detail. Mereka bahkan melakukan survei ke beberapa lokasi yang dianggap strategis untuk membuang jasad korban setelah dieksekusi. Ini menjadi bukti kuat bahwa ada mens rea atau niat jahat yang sudah disusun secara matang jauh-jauh hari,” ungkap Kombes Pol Hendri Umar di hadapan awak media.
Kronologi eksekusi yang dipaparkan polisi menggambarkan betapa kejamnya tindakan para tersangka. Korban S diketahui dibunuh saat berada dalam kondisi tidak berdaya, sehingga tidak ada ruang baginya untuk melakukan perlawanan. Tidak berhenti sampai di situ, guna mengaburkan penyelidikan kepolisian dan menghilangkan jejak, para pelaku berupaya membuang bagian-bagian tubuh korban di beberapa lokasi yang berbeda di sekitar wilayah Sempaja Utara. Upaya penghilangan barang bukti ini sempat menyulitkan petugas, namun berkat keahlian tim forensik dan anjing pelacak, titik-titik pembuangan tersebut berhasil ditemukan.
Selain mengamankan para tersangka, pihak kepolisian juga menyita berbagai barang bukti yang memperkuat dugaan tindak pidana pembunuhan berencana. Barang bukti tersebut meliputi dua unit sepeda motor yang digunakan untuk mobilisasi, beberapa telepon genggam yang berisi riwayat komunikasi perencanaan, karung, parang, palu besi, kayu, serta pakaian yang dikenakan pelaku saat melakukan aksi kejinya. Alat-alat seperti palu dan kayu tersebut diduga kuat digunakan sebagai instrumen utama untuk melumpuhkan korban hingga tewas.
Mengenai alasan di balik tindakan nekat ini, Kombes Pol Hendri Umar menyebutkan bahwa motif sementara adalah sakit hati.
“Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara, motif utama yang mendasari perbuatan para tersangka adalah rasa sakit hati atau dendam pribadi terhadap korban. Namun, kami masih akan mendalami lebih lanjut apakah ada faktor lain atau keterlibatan pihak lain dalam lingkaran konflik ini,” tambahnya.
Pendalaman motif ini sangat penting untuk melengkapi berkas perkara sebelum dilimpahkan ke pihak kejaksaan.
Saat ini, J dan R telah resmi ditahan di rutan Polresta Samarinda untuk menjalani proses hukum lebih lanjut. Penyidik menjerat kedua tersangka dengan Pasal 459 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tentang pembunuhan berencana. Pasal ini membawa ancaman hukuman yang sangat berat bagi para pelakunya, yakni hukuman penjara maksimal selama 20 tahun, seumur hidup, atau bahkan hukuman mati, sesuai dengan tingkat kekejaman dan perencanaan yang terbukti di persidangan.
Kapolresta Samarinda juga memberikan pesan kepada masyarakat agar tetap tenang dan tidak terprovokasi oleh isu-isu yang belum tentu kebenarannya di media sosial. Beliau memastikan bahwa kepolisian akan menangani perkara ini secara profesional, akuntabel, dan transparan hingga tuntas di tahap persidangan. Kasus ini sekaligus menjadi peringatan bagi siapapun bahwa setiap tindakan kriminalitas, sekecil apapun perencanaannya, akan selalu meninggalkan jejak yang mampu diendus oleh aparat penegak hukum.