MTQ Berau di Persimpangan: Anggaran atau Masa Depan Generasi?

MTQ Berau di Persimpangan: Anggaran atau Masa Depan Generasi?

OPINI – “Sangat disayangkan Syarhil dan Fahmil ditiadakan di MTQ Kabupaten Berau tahun ini. Padahal dua cabang ini yang paling ditunggu-tunggu anak muda untuk unjuk prestasi bareng tim.”

“Kacau Berau, sekelas Fahmil dan Syarhil dihilangkan cabangnya, gak mikirin kontestan, termasuk saya dan teman saya, ikut cabang Fahmil yang sudah mempersiapkannya setahun lebih.”

“Seharusnya tetap diadakan cabang lomba Syarhil dan Fahmil, karena cabang lomba itu termasuk yang membuat ramai MTQ Kabupaten.”

Demikian beberapa komentar warganet setelah membaca pemberitaan pada Beranews.id di Instagram mengenai pelaksanaan MTQ Kabupaten Berau tahun ini yang disebut akan mengurangi sejumlah cabang perlombaan, termasuk Syarhil dan Fahmil Quran. Memang, hingga hari ini edaran resmi belum sepenuhnya beredar luas di masyarakat. Namun, kabar yang telah ramai diperbincangkan tentu bukan tanpa dasar.

Sebagai alumni peserta Fahmil Quran dan beberapa cabang MTQ lainnya, bahkan sampai hari ini masih ikut terlibat membantu penyusunan naskah Syarhil Quran, saya merasakan kekecewaan yang sama seperti banyak peserta lainnya. Ada rasa sedih melihat Kabupaten Berau, yang dahulu dikenal memiliki semangat MTQ yang kuat, perlahan kehilangan ruang-ruang yang justru paling hidup dalam syiar Al-Quran.

Efisiensi Tidak Semestinya Mengorbankan Ruang Syiar

Jika alasannya efisiensi anggaran, tentu kita memahami bahwa kondisi itu juga dirasakan hampir seluruh daerah di Indonesia. Kebijakan penghematan memang menjadi konsekuensi logis dari situasi nasional saat ini. Namun pertanyaannya, mengapa daerah lain tetap mampu mempertahankan cabang-cabang penting seperti Syarhil dan Fahmil, sementara Berau justru memilih menghapusnya?

Dalam kaidah ushul fikih dikenal ungkapan:

maa laa yudraku kulluh laa yutraku kulluh

“apa yang tidak bisa dicapai seluruhnya, jangan ditinggalkan seluruhnya”.

Artinya, jika anggaran memang terbatas, mestinya yang disesuaikan adalah teknis pelaksanaan, besaran hadiah, atau kemeriahan seremoni. Bukan justru menghilangkan ruang kompetisi bagi generasi muda yang telah berlatih bertahun-tahun.

Sebab bagi peserta, satu kesempatan tampil itu sangat berarti. Bahkan untuk cabang yang pesertanya sedikit sekalipun, mereka tetap punya hak yang sama untuk bermusabaqah. Jangan sampai alasan efisiensi berubah menjadi alasan untuk mematahkan semangat.

Syarhil dan Fahmil Adalah Wajah MTQ yang Paling Dekat dengan Anak Muda

Saya pribadi heran jika benar cabang yang dipangkas justru Syarhil dan Fahmil Quran. Dua cabang ini adalah denyut paling hidup dalam pelaksanaan MTQ. Dari tingkat kampung hingga nasional, panggung Syarhil dan Fahmil selalu ramai disaksikan masyarakat.

Mengapa? Karena dua cabang ini bukan hanya lomba membaca atau menghafal. Di dalamnya ada kemampuan berpikir, kerja sama tim, retorika, wawasan keislaman, dan keberanian tampil di depan publik. Syarhil dan Fahmil menjadikan Al-Quran terasa dekat dengan kehidupan anak muda hari ini.

Kalau tujuan utama MTQ masih kita yakini sebagai syiar Islam, maka cabang seperti ini justru harus diperkuat, bukan dihilangkan.

Syarhil mengajarkan dakwah yang komunikatif dan relevan dengan zaman. Fahmil melatih kecerdasan berpikir cepat, penguasaan ilmu agama, sekaligus sportivitas. Dari panggung-panggung inilah lahir generasi muda yang percaya diri membawa nilai Al-Quran ke ruang publik.

MTQ Bukan Sekadar Soal Anggaran

Ada hal lain yang mungkin luput dihitung dalam laporan anggaran: pengalaman kebersamaan.

Dahulu, para peserta MTQ rela menempuh perjalanan jauh ke pelosok kampung, tidur di rumah warga, makan bersama, berkenalan dengan peserta dari kecamatan lain, dan pulang membawa kenangan yang tak terlupakan. Dari sana tumbuh ukhuwah, mental juang, dan kecintaan terhadap syiar Islam.

Saya masih ingat bagaimana hangatnya suasana musabaqah di daerah-daerah pelosok Kalimantan. Jalan rusak, perjalanan panjang, keterbatasan fasilitas semuanya terasa ringan karena ada semangat kebersamaan.

Hal-hal seperti itu tidak akan tergantikan jika pelaksanaan MTQ hanya menjadi sekadar formalitas seleksi di gedung tertutup.

Jangan Bunuh Mimpi Anak Daerah

Yang paling saya khawatirkan dari kebijakan ini bukan sekadar hilangnya cabang lomba, tetapi hilangnya harapan anak-anak muda Berau.

Di tengah derasnya arus digital, masih ada remaja yang mau belajar Al-Quran, menghafal materi Fahmil, menyusun naskah Syarhil, berlatih pidato hingga larut malam itu seharusnya menjadi kebanggaan kita bersama.

Namun bagaimana semangat itu bisa tumbuh jika ruangnya justru dipersempit?

Kita sering mengeluhkan generasi muda yang jauh dari nilai agama. Tetapi ketika ada anak-anak yang justru ingin dekat dengan Al-Quran, mengapa mereka malah dipersulit?

Apalah arti penghematan anggaran dibanding menjaga mimpi generasi muda?

Bukankah Berau memiliki begitu banyak perusahaan besar yang selama ini menikmati hasil bumi daerah ini? Mengapa tidak dibangun kolaborasi agar syiar Al-Quran tetap hidup tanpa harus memangkas ruang prestasi anak-anak daerah?

Jangan sampai anak muda Berau yang potensial justru kehilangan rasa memiliki terhadap daerahnya sendiri karena merasa tidak diberi tempat untuk bertumbuh.

Yang Tua Perlu Mendengar yang Muda

Tulisan ini bukan bentuk kebencian kepada LPTQ ataupun pihak terkait. Justru sebaliknya, ini adalah bentuk kepedulian dari seorang anak muda yang pernah tumbuh melalui panggung MTQ.

Saya percaya semua pihak tentu memiliki niat baik. Namun dalam kebijakan yang menyangkut masa depan generasi muda, komunikasi menjadi hal yang sangat penting. Yang tua perlu mendengar kegelisahan yang muda, dan yang muda pun harus belajar memahami keterbatasan yang dihadapi para pengambil keputusan.

Karena itu, keputusan sebesar ini semestinya lahir melalui musyawarah yang melibatkan banyak pertimbangan, bukan sekadar hitung-hitungan teknis anggaran.

Sebagai penutup, saya teringat firman Allah Swt dalam QS. An-Nisa ayat 9:

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka keturunan yang lemah, yang mereka khawatir terhadap kesejahteraannya…”

Ayat ini terasa relevan untuk kita renungkan bersama. Jangan sampai kita menjadi generasi yang meninggalkan anak-anak muda yang lemah semangatnya terhadap Al-Quran hanya karena terlalu sibuk memikirkan efisiensi.

Kalau memang harus berhemat, mungkin yang bisa dikurangi adalah kemewahan seremonial, dekorasi berlebihan, atau hal-hal yang sifatnya pelengkap. Tetapi jangan sampai yang dikorbankan justru ruang tumbuh anak-anak daerah yang masih mau mencintai Al-Quran.

Sebab ketika harapan mereka dipadamkan bahkan sebelum bertanding, maka yang hilang bukan sekadar cabang lomba melainkan masa depan syiar Al-Quran di Bumi Batiwakkal. Wallahu a’lam bish-shawab.

Oleh: Rahmat Al-Barawi, Putra Daerah Berau

Sumber: https://medium.com/@rahmatalbarawi6/mtq-berau-efisiensi-atau-patahkan-mimpi-f8d7747a51cf

You might also like
Turnamen Voli Samarinda Seberang Perkuat Solidaritas dan Semangat Sportivitas Pemuda

Turnamen Voli Samarinda Seberang Perkuat Solidaritas dan Semangat Sportivitas Pemuda

Bareskrim Awasi Ketat Kasus Dugaan Narkoba yang Jerat Kasat Resnarkoba Kukar

Bareskrim Awasi Ketat Kasus Dugaan Narkoba yang Jerat Kasat Resnarkoba Kukar

Pelarian Pencuri Mobil Berakhir di Kelay, Polisi Ringkus Pelaku Kurang dari Lima Jam

Pelarian Pencuri Mobil Berakhir di Kelay, Polisi Ringkus Pelaku Kurang dari Lima Jam

Akademisi UINSI Ungkap Tantangan Politik di Balik Wacana Hak Angket DPRD Kaltim

Akademisi UINSI Ungkap Tantangan Politik di Balik Wacana Hak Angket DPRD Kaltim

Dapat Restu Pemkot dan Pemprov, HMI Cabang Samarinda Serius Bidik Tuan Rumah Kongres HMI Ke-33 Tahun 2026

Dapat Restu Pemkot dan Pemprov, HMI Cabang Samarinda Serius Bidik Tuan Rumah Kongres HMI Ke-33 Tahun 2026

DPRD Berau Dukung Banuarasa Weekend Market UMKM Naik Kelas

DPRD Berau Dukung Banuarasa Weekend Market UMKM Naik Kelas